PARADASE.id – Tren bersepeda terus melambung naik sebagai hobi bagi warga Kota Bontang. Namun, gaya hidup ini kerap melampaui batas lantaran sering dijumpainya pesepeda yang melintas di badan jalan.
Perilaku ini mulai dikeluhkan para pengguna kendaraan roda dua maupun roda empat. Apalagi aktivitas tersebut selalu dilakukan beramai-ramai.
Menanggapi hal tersebut anggota DPRD Bontang Yasser Arafat mengatakan jika selama pandemi Covid-19 animo masyarakat melakukan olahraga dengan bersepeda menjadi meningkat baik dari anak kecil hingga orang tua.
“Secara tidak langsung dampak dari tingginya antusias masyarakat melakukan olahraga yang simple yakni dengan bersepeda berdampak dengan banyaknya keluhan pengendara motor dan mobil,” ujarnya saat ditemui Paradase.Id, Senin (29/6/2020) pagi.
Kata dia, banyaknya para pesepeda yang tidak mematuhi atauran lalu lintas tentunya sangat berbahaya terutama bagi pengendara lainnya. Lantas ia menyarankan agar konvoi pesepeda dilakukan dengan tertib.
“Terkadang ada pengendara yang dengan sengaja menerobos lampu merah seharusnya saat melakukan gowes harus ada yang namanya kapten ridernya saat dijalan agar ada yang bisa mengarahkan rekan-rekannya agar bisa mentaati aturan lau lintas,” tuturnya
Menurutnya, jalur lintasan yang sudah dibuat oleh pihak Pemerintah Kota (Pemkot) dirasanya kurang efektif namun kedisiplinan saat bersepeda harusnya menjadi kesadaran personal dan harusnya ada aturan bagi anggota komunitas dalam penertibannya.
“Untuk jalur khusus pesepeda saya rasa gak efektif, namun harus dengan kesadaran orang itu tersendiri dan bagi para ketua komnitas sepeda seharusnya bisa tegas terhadap anggotanya,” jelasnya
Iapun menghimbau kepada masyarakat yang gemar dengan olahraga sepeda, hendaknya tertib saat melintasi badan jalan, sehingga tidak meresahkan pengguna jalan lainnya dan mengurangi resiko terjadinya kecelakaan.
Dikonfoirmasi terpisah, salah satu Ketua Komunitas Sepeda di Bontang Ariyanto Baharudin mengatakan jika setiap melakukan gowes, dirinya selalu mengingatkan akan ketertiban saat melintasi ruas jalan, seperti tidak menggunakan badan jalan secara berlebihan dan tidak beriringan saat bersepeda.
“Sebelum mengadakan gowes kami selalu melakukan briefing kepada anggota yang tujuannya untuk memperbaiki citra pesepeda yang saat ini tengah buruk dimata masyarakat,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, tidak semua pesepeda melakukan hal serupa, kendati demikian ia mengaku hal ini memang sering ditemukan di ruas-ruas jalan di Bontang. Namun pesepeda tidak hanya berasal dari komunitasnya saja.
“Memang saat ini yang tengah menjadi sorotan dalah komunitas kami namun saat melakukan gowes tersebut tidak murni dari komunitas kami ada juga dari komunitas lain, pelakunya hanya oknum saja mas dan tolong jangan disamakan semua pesepeda itu sama. Untuk komunitas saya jika melakukan gowes pasti ada yang bertuga sebagai penunjuk jalan (Komando) dan ada juga yang bertugas sebagai silver yang bertugas menegur jika ada anggota yang bersepeda secara berirringan atau memkaan badan jalan,” akunya.
Iapun menghimbau kepada para pesepeda untuk bisa saling menghargai pengguna jalan lainnya. Karena semua pengguna jalan memiliki hak yang sama. (Adv)


