Menu
  • TERAS
  • LINTAS
  • LIPUTAN KHUSUS
  • RAGAM
  • PARIWARA
    • DISKOMINFO KOTA BONTANG
    • DPRD KOTA BONTANG
    • DPRD PROV. KALTIM
    • DPRD KAB. KUTIM
    • DISPOPAR KALTIM
    • DISKOMINFO PERSTIK KUTIM
    • DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KALTIM
  • PARADASE DIGITAL GALLERY
Menu
  • TERAS
  • LINTAS
  • LIPUTAN KHUSUS
  • RAGAM
  • PARIWARA
    • DISKOMINFO KOTA BONTANG
    • DPRD KOTA BONTANG
    • DPRD PROV. KALTIM
    • DPRD KAB. KUTIM
    • DISPOPAR KALTIM
    • DISKOMINFO PERSTIK KUTIM
    • DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KALTIM
  • PARADASE DIGITAL GALLERY
Menu
  • TERAS
  • LINTAS
  • LIPUTAN KHUSUS
  • RAGAM
  • PARIWARA
    • DISKOMINFO KOTA BONTANG
    • DPRD KOTA BONTANG
    • DPRD PROV. KALTIM
    • DPRD KAB. KUTIM
    • DISPOPAR KALTIM
    • DISKOMINFO PERSTIK KUTIM
    • DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KALTIM
  • PARADASE DIGITAL GALLERY
Home Teras

H Redy Borong Seribu Tiket Kuyank

Redaksi Paradase by Redaksi Paradase
January 27, 2026
in Teras
0
H Redy Borong Seribu Tiket Kuyank

JANGAN lupa dua hari lagi. Yaitu, Kamis, 29 Januari 2026. Ada pemutaran film menarik di seluruh bioskop di Indonesia terutama di Kalimantan. Mau tahu? Judulnya “Kuyank,” yang disutradarai oleh anak Banjar yang mempunyai ngaran Johansyah Jumberan.

Johan asli urang Banjar. Kalau bapaknder R-nya “betagar.” Tapi dia hebat. Pemula karir dari penulis skenario. Film pertamanya meledak dan heboh. Judulnya “Saranjana,” kota gaib di kawasan Pulat Laut, Kota Baru, Kalsel. Jumlah yang menonton di atas satu juta orang.

Kuyank dibaca kuyang sepertinya akan menyamai Saranjana. Bahkan bisa lebih. Karena sudah viral di jagad media sosial. Ini cerita memang menarik dan penuh mistis. Hampir semua orang tahu, kuyang adalah sejenis hantu yang melegenda terutama di Kalimantan Selatan. Dia suka menghisap darah wanita hamil, orang yang tengah melahirkan atau anak-anak balita.

Dalam film Kuyank, Rusmiati yang diperankan Putri Intan Kasela terpaksa mempelajari ajian kuyang demi kecantikan dan keabadian. Ini gara-gara mertuanya mendorong sang suami, Badri (diperankan Rio Dewanto) disuruh poligami alias babini dua untuk mendapatkan keturunan. Rusmiati gaer kehilangan Badri, sehingga dia nekat menjadi kuyang. Ceritanya menjadi seru karena Rusmiati “Kuyank” akhirnya memburu masyarakat, sementara Badri berusaha melindungi istrinya yang sangat dia cintai.

Meski bergenre film horor, tapi Kuyank juga menghibur. Banyak adegan dan dialog yang mengundang tawa khususnya bagi mereka yang mengerti bahasa Banjar. Ada istilah bunga, yang menggambarkan wanita cantik. Ada lelaki baung yang menggambarkan lelaki kijil atau lanji.
Sutradara Kuyank, Johansyah Jumberan, Senin kemarin ada di Balikpapan. Dia datang bersama dua pemain yaitu Jolene Marie dan Dayu Wijanto. “Tadinya Rio Dewanto mau datang. Tapi terhalang jadwal syuting sinetron yang padat,” ujarnya.

Jolene Marie adalah ratu kecantikan, penyanyi dan runner-up kontes Puteri Indonesia 2019. Dia dilahirkan di Santa Ana, California. Dalam Kuyank, dia berperan sebagai Husnah, yang mengantarkan Rusmiati menjadi kuyang. Dia juga kuyang. Sedang Dayu Wijanto adalah orang Jawa yang menyukai bidang seni dan olahraga. Pernah tinggal di New York dan pernah bekerja dengan BJ Habibie. Dia banyak ikut membintangi film nasional. Dalam Kuyank dia berperan sebagai Hj Saidah, mamanya Badri. Tampil nora dengan tangan dan leher penuh perhiasan emas. Maklum cerita mereka keluarga pedagang emas.
Johan sempat mampir di rumah tokoh senior Banjar Balikpapan, pengusaha H Redy Asmara di Balikpapan Baru. Di situ juga ada saya dan beberapa tokoh Banjar lainnya. Ada Bu Titis, Bu Erna, Rudi, H Syukur, Yatim dan lainnya. Sambil menikmati beberapa wadai Banjar, Johan bekesah sekitar film Kuyank, yang segera tayang di seluruh bioskop di Tanah Air.

Johan sempat membagi kaus dan pin Kuyank kepada H Redy. Ada juga parfum Kuyank. “Biar taingat terus dengan film Kuyank dan semua mau menonton,” ajaknya.
Menurut Johan, penggarapan film Kuyank benar-benar penuh perjuangan. Para pemain dia angkut dari Jakarta dan berdiam sebulan di Banjar. Biar mengerti budaya dan Bahasa Banjar. Propertinya tidak tanggung-tanggung. Beratnya sekitar satu setengah ton. “Semua kita bawa agar film Kuyank benar-benar bisa ditonton dan menarik,” ujarnya.

H Redy meyakini film Kuyank bakal sukses. Tidak hanya disukai orang Banjar, tapi juga masyarakat Indonesia lainnya. Kuyang itu mirip parakang di Sulawesi Selatan atau leak di Bali.

Untuk memberikan dukungan, H Redy memborrong seribu tiket Kuyank. Nanti akan dia bagi gratis kepada semua anak buah dan pekerjanya. “Biar semua bisa menonton dan film Kuyank sukses di Tanah Air terutama Kalimantan,” katanya bersemangat.

Tadi malam Johansyah mengajak H Redy dan bubuhan Banua Balikpapan menonton pemutaran perdana film Kuyank di XXI Balcony. Ratusan orang datang dan memuji film Kuyank memang menarik dan menunjukkan ada anak Banjar yang jago maulah film berlatar belakang kisah budaya daerah.

Dari Balikpapan, hari ini Johan bersama dua artisnya melanjutkan kunjungan promosinya ke Samarinda. Dia tahu orang Samarinda juga tak sabar menonton Kuyank. “Ajak bubuhan kita semua menonton Kuyank. Sudah waktunya film Kalimantan juga berjaya di layar nasional,” kata Johan bahimat.

FILM USUL “BUAYA KUNING”

Sebagai urang Kalua, H Redy tertarik mengajak Johansyah menggarap film Buaya Kuning. Dia siap bekerja sama karena cerita buaya kuning juga melegenda di Kalimantan Selatan termasuk di wilayah Kalimantan lainnya.

Kabarnya masih ada masyarakat tradisional Banjar yang maharagu buaya kuning. Adat ini masih dilestarikan di sepanjang Sungai Tabalong oleh masyarakat Kalua dan Amuntai. Sebagian besar orang percaya bahwa buaya kuning adalah jelmaan para datu yang telah hidup sejak zaman Putri Junjung Buih. Ada juga yang mendapatkan buaya kuning melalui kembaran saat lahir.
Bagi orang Banjar, buaya kuning dipercaya sebagai mahluk gaib yang melakukan perjanjian dengan manusia berkaitan dengan ilmu kesaktian, kemakmuran atau kekayaan hingga panjang umur. Sebaliknya manusia dan anak cucunya kelak harus merawat dan memelihara buaya kuning tersebut melalui ritual Malabuh.

Upacara Malabuh itu ditandai dengan melarungkan sejumlah makanan di antara lakatan (ketan), petunjuk bejarang (telur rebus), pisang, bubur habang dan bubur putih serta sejumlah makanan lainnya. Jika hal ini tidak dilakukan, maka akan ada anggota keluarga yang mengalami sakit atau bahkan kematian.

Menurut H Redy, jika legenda buaya kuning difilmkan, dia optimistis juga meledak di pasaran. Karena ceritanya sangat menarik dan penuh aroma mistis.

Johan sendiri mengaku tertarik memfilmkan Buaya Kuning, apalagi mendapat dukungan dari pengusaha H Redy. “Kita perlu mengangkat berbagai cerita dan budaya Banjar, biar orang tahu bahwa suku Banjar di Kalimantan juga kaya dengan budayanya termasuk cerita mistisnya,” kata Johansyah dengan wajah bahagia.

Sepulang nonton film Kuyank malam tadi, saya tidur dengan lampu yang terang. Saya takut tengah malam kuyang masuk ke kamar saya. Soalnya sejak dulu saya takut hantu. Ada kawal begayaan. “Kada usah takut, kuyang kada mau mahisap darah orang tuha. Darahnya pahit, kuyangnya bisa keracunan” katanya sambil tertawa.(*)

Tags: kota bontang
Previous Post

Diskominfo Bontang Serahkan Tujuh Website Resmi ke OPD dan Kelurahan

Next Post

Lakalantas di Jalan Juanda, Pengendara Motor Meninggal Dunia, Polisi Amankan Pelaku

Next Post
Lakalantas di Jalan Juanda, Pengendara Motor Meninggal Dunia, Polisi Amankan Pelaku

Lakalantas di Jalan Juanda, Pengendara Motor Meninggal Dunia, Polisi Amankan Pelaku

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer

  • Security Bisa di PKWT Sesuai UU Ketenagakerjaan

    Security Bisa di PKWT Sesuai UU Ketenagakerjaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pupuk Kaltim Bekali 30 UMKM Binaan di Samarinda Keterampilan Multimedia dan Public Speaking

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Maxim Salurkan Bonus Hari Raya untuk Mitra Driver di Bontang, Apresiasi Kinerja dan Loyalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Catatan Singkat Suku Bangsa di Kalimantan Timur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketua Komisi III DPRD Bontang Kecewa atas Keterlambatan Renovasi Terminal Kilometer 6

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Tentang Kami  |  Kontak Kami  |  Pedoman Siber  |  Redaksi

Ikuti Kami

© 2019 Paradase - All Rights Reserved

Ikuti Kami

Tentang Kami  |  Kontak Kami  |  Pedoman Siber  |  Redaksi

Ikuti Kami

© 2019 Paradase - All Rights Reserved

news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

judi bola online

sabung ayam online

judi bola online

slot mahjong ways

slot mahjong

sabung ayam online

judi bola

live casino

sabung ayam online

judi bola

live casino

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

artikel-128000741

artikel-128000742

artikel-128000743

artikel-128000744

artikel-128000745

artikel-128000746

artikel-128000747

artikel-128000748

artikel-128000749

artikel-128000750

artikel-128000751

artikel-128000752

artikel-128000753

artikel-128000754

artikel-128000755

artikel-128000756

artikel-128000757

artikel-128000758

artikel-128000759

artikel-128000760

article 138000661

article 138000662

article 138000663

article 138000664

article 138000665

article 138000666

article 138000667

article 138000668

article 138000669

article 138000670

article 138000671

article 138000672

article 138000673

article 138000674

article 138000675

article 138000676

article 138000677

article 138000678

article 138000679

article 138000680

article 138000681

article 138000682

article 138000683

article 138000684

article 138000685

article 138000686

article 138000687

article 138000688

article 138000689

article 138000690

article 138000691

article 138000692

article 138000693

article 138000694

article 138000695

article 138000696

article 138000697

article 138000698

article 138000699

article 138000700

article 138000701

article 138000702

article 138000703

article 138000704

article 138000705

article 138000706

article 138000707

article 138000708

article 138000709

article 138000710

article 138000711

article 138000712

article 138000713

article 138000714

article 138000715

article 138000716

article 138000717

article 138000718

article 138000719

article 138000720

article 138000721

article 138000722

article 138000723

article 138000724

article 138000725

article 138000706

article 138000707

article 138000708

article 138000709

article 138000710

article 138000711

article 138000712

article 138000713

article 138000714

article 138000715

article 138000716

article 138000717

article 138000718

article 138000719

article 138000720

article 138000721

article 138000722

article 138000723

article 138000724

article 138000725

article 138000726

article 138000727

article 138000728

article 138000729

article 138000730

article 138000731

article 138000732

article 138000733

article 138000734

article 138000735

article 208000456

article 208000457

article 208000458

article 208000459

article 208000460

article 208000461

article 208000462

article 208000463

article 208000464

article 208000465

article 208000466

article 208000467

article 208000468

article 208000469

article 208000470

208000446

208000447

208000448

208000449

208000450

208000451

208000452

208000453

208000454

208000455

article 228000306

article 228000307

article 228000308

article 228000309

article 228000310

article 228000311

article 228000312

article 228000313

article 228000314

article 228000315

article 228000316

article 228000317

article 228000318

article 228000319

article 228000320

article 228000321

article 228000322

article 228000323

article 228000324

article 228000325

article 228000326

article 228000327

article 228000328

article 228000329

article 228000330

article 228000331

article 228000332

article 228000333

article 228000334

article 228000335

article 228000336

article 228000337

article 228000338

article 228000339

article 228000340

article 228000341

article 228000342

article 228000343

article 228000344

article 228000345

article 228000346

article 228000347

article 228000348

article 228000349

article 228000350

article 228000351

article 228000352

article 228000353

article 228000354

article 228000355

article 238000366

article 238000367

article 238000368

article 238000369

article 238000370

article 238000371

article 238000372

article 238000373

article 238000374

article 238000375

article 238000376

article 238000377

article 238000378

article 238000379

article 238000380

article 238000381

article 238000382

article 238000383

article 238000384

article 238000385

article 238000386

article 238000387

article 238000388

article 238000389

article 238000390

article 238000391

article 238000392

article 238000393

article 238000394

article 238000395

article 238000396

article 238000397

article 238000398

article 238000399

article 238000400

article 238000401

article 238000402

article 238000403

article 238000404

article 238000405

article 238000406

article 238000407

article 238000408

article 238000409

article 238000410

article 238000411

article 238000412

article 238000413

article 238000414

article 238000415

article 238000416

article 238000417

article 238000418

article 238000419

article 238000420

article 238000421

article 238000422

article 238000423

article 238000424

article 238000425

article 238000426

article 238000427

article 238000428

article 238000429

article 238000430

sumbar-238000366

sumbar-238000367

sumbar-238000368

sumbar-238000369

sumbar-238000370

sumbar-238000371

sumbar-238000372

sumbar-238000373

sumbar-238000374

sumbar-238000375

sumbar-238000376

sumbar-238000377

sumbar-238000378

sumbar-238000379

sumbar-238000380

sumbar-238000381

sumbar-238000382

sumbar-238000383

sumbar-238000384

sumbar-238000385

sumbar-238000386

sumbar-238000387

sumbar-238000388

sumbar-238000389

sumbar-238000390

sumbar-238000391

sumbar-238000392

sumbar-238000393

sumbar-238000394

sumbar-238000395

sumbar-238000396

sumbar-238000397

sumbar-238000398

sumbar-238000399

sumbar-238000400

sumbar-238000401

sumbar-238000402

sumbar-238000403

sumbar-238000404

sumbar-238000405

sumbar-238000406

sumbar-238000407

sumbar-238000408

sumbar-238000409

sumbar-238000410

news-1701